Aqidah Ath Thahawiyah: Beriman Kepada Takdir Allah l Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
25 Dilihat
Apa yang dijelaskan oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Rahimahullah merupakan salah satu prinsip dari sekian banyak prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau menjelaskan bahwa pembahasan tentang takdir itu merupakan rahasia ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Dan sebagaimana yang kita maklumi, tidak seorangpun yang bisa mengetahui ilmu Allah ‘Azza wa Jalla yang maha luas. Baik ilmu yang berkaitan dengan perbuatan makhluk atau perbuatan Allah sendiri, semua itu rahasia Allah.

Kemudian juga semuanya yang diketahui Allah Subhanahu wa Ta’ala ditulis di Lauhul Mahfudz. Dan tidak seorangpun yang mengetahui apa yang tertulis. Sampai pun para Malaikat tidak mengetahui, begitu juga para Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak mengetahui hal itu.

Begitu juga kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi seluruh makhlukNya yang tidak terbatas serta ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang diciptakan oleh Allah, apa yang ingin diciptakan, apa yang belum diciptakan dan yang akan diciptakan oleh Allah. Semua itu adalah rahasia ilmu Allah yang hanya diketahui Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga apabila seseorang memaksakan dirinya untuk mendalami lebih jauh, meneliti lebih dalam hanya berlandaskan akal semata logika, maka sungguh dia tidak akan bisa mengetahui hal itu bahkan itu merupakan sebab yang akan menjerumuskan ia dalam kehinaan. Dan juga merupakan tangga demi tangga yang dia akan lewati, yang akan dia lalui, yang akan menjerumuskan dia dalam hal-hal yang terlarang atau kesesatan.

Karena hal demikian itu merupakan sikap yang telah melampaui batas. Maka kata beliau, hendaklah kita waspada dan berhati-hati jangan sampai kita mendalami dan meneliti perkara tersebut terlampau jauh atau melampaui batas yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara pikiran, penelitian atau apa yang ada dalam jiwa kita berupa was-was yang itu merupakan sikap yang ditanamkan oleh iblis dalam diri manusia sehingga menjadikan seseorang ragu dan bimbang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh ditanya tentang perbuatannya kenapa Allah menciptakan. Adapun manusia, merekalah yang akan diminta pertanggungjawaban terhadap perbuatan mereka. Mereka akan ditanya, kenapa melakukan hal itu, apa tujuannya dan apa landasannya.

Maka dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak boleh didalam memahami pembahasan takdir kita bertanya dengan redaksi:

kenapa Allah menciptakan?
kenapa Allah menghendaki hal ini?
kenapa Allah melakukan?
Itu adalah pertanyaan yang tidak diperbolehkan. Pertanyaan tentang perbuatan Allah. Allah mengatakan:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ ﴿٢٣﴾
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya[21]: 23)

Maka kata Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Rahimahullah, barangsiapa yang menyelisihi lalu dia bertanya “kenapa”, itu sama saja artinya menolak hukum Al-Qur’an, maka konsekuensinya barangsiapa yang menolak hukum Al-Qur’an maka dia termasuk ke dalam orang-orang yang kafir.
Rekaman audio: https://www.radiorodja.com/
Rodja.TV: https://rodja.tv/
Kategori
Ceramah Agama Islam
Label
kajian islam, ceramah singkat, ceramah agama, kajian sunnah, muhammad nur ihsan, kajian salaf, salafy

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar