RodjaTV
Ahlan wa sahlan
Login / Daftar

Aqidah Shahihah Pondasi Amal (Al Irsyad ila Shahihil Itiqad) l Ustadz Abu Haidar as Sundawy

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

URL

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Ditambahkan oleh Admin pada Ustadz Abu Haidar As-Sundawy
140 Dilihat

Deskripsi

Aqidah Fondasi Amal merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 21 Dzul Qa’idah 1439 H / 03 Agustus 2018 M.

Setiap muslim wajib mempelajari aqidah Islamiyyah agar memahami maknanya untuk kemudian diwujudkan, diamalkan, diaplikasikan. Dan juga mempelajari hal yang sebaliknya dari aqidah. Agar kita terjaga dari kekeliruan didalam beraqidah. Mengetahui apa yang bisa membatalkan aqidah kita, apa yang bisa mengurangi aqidah kita, baik itu syirik besar, syirik kecil, kufur besar, kufur kecil, nifaq besar, nifaq kecil, atau hal yang bisa mengurangi nilai dari aqidah kita apalagi membatalkannya.

PERINTAH MEMPELAJARI AQIDAH

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ ﴿١٩﴾
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad[47]: 19)

Perintah pertama dalam ayat di atas adalah belajar. Dan hal pertama yang harus dipelajari adalah kalimat tauhid. Inilah aqidah yang paling mendasar. Baru perintah kedua adalah beramal. Dan amal yang diperintahkan adalah istighfar.
Imam Bukhari berkata didalam kitab shahih Bukhari ketika menjelaskan tentang keutamaan ilmu. Beliau menyatakan bahwa ilmu harus didahulukan dari pada berucap dan beramal. Sehingga ucapan dan amalan kita didasarkan kepada ilmu. Kalau didasarkan pada ilmu, pasti bisa dipertanggungjawabkan dunia maupun akhirat. Lalu Imam Bukhari menurunkan dalil atas ucapannya itu dengan Surat Muhammad ayat ke-19 di atas.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitab Fathul Bari syarah shahih Bukhari ketika mengomentari ucapan Imam Bukhari di atas, bahwa maksud Imam Bukhari adalah bahwa ilmu menjadi syarat benarnya ucapan dan amalan. Ucapan dianggap benar kalau didasarkan kepada ilmu. Ada landasan ilmiahnya yang bisa dijadikan sebagai pegangan. Begitu juga dengan amal. Kalau ayat atau haditsnya benar dan pemahaman dari ayat dan hadits itu benar, maka benarlah amalan yang didasarkan kepada ayat dan hadits tadi. Ucapan dan amalan apapun tidak boleh dianggap atau dilirik kecuali ucapan dan amalan yang didasarkan pada ilmu. Ilmu lah yang membuat niat menjadi benar. Sedangkan benarnya niat bisa menjadi benarnya amalan.

Jika ada orang yang tidak berilmu, maka sangat mungkin dia meletakkan niat yang salah ketika beramal. Dia berniat bukan untuk Allah, tapi untuk dunia. Bisa jadi amalan yang dikerjakan adalah amalan akhirat seperti shalat, puasa, infaq atau sedekah tapi untuk tujuan duniawi. Baik tujuan duniawi itu untuk memperoleh uang, jabatan, popularitas, pujian orang, atau yang lainnya. Salah satu penyebab salahnya niat ini karena ketidaktahuan dia. Dia sangka hal itu diperbolehkan.
selamat menyimak semoga bermanfaat.
Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=
Rodja.TV: http://rodja.tv/

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar
RSS