Bahaya Ghuluw dan Mengkultuskan Individu (Shahih Itiqad) l Ustadz Abu Hadiar As Sundawy

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
27 Dilihat
Bahaya Ghuluw dan Mengkultuskan Individu merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 15 Rabbi’ul Awwal 1440 H / 23 November 2018 M.
Beliau ialah seorang Nabi dan Rasul yang harus diagungkan, dimuliakan, ditaati dan dituruti. Tapi ada batasnya. Tidak boleh berlebih-lebihan karena selain sebagai Nabi dan Rasul, beliau juga seorang hamba. Dan sifat hambanya disebut lebih dahulu dari pada sifat Rasul atau Nabinya.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Beliau hamba, tidak boleh dijadikan sebagai yang disembah. Beliau Abdun, bukan Ma’bud. Ma’bud hanyalah Allah. Beliau hamba yang beribadah kepada Allah.

Kalau kultus atau ghuluw atau berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terlarang, terlebih lagi berlebih-lebihan kepada orang yang levelnya dibawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti para shalihin, para ulama, para aulia, orang-orang yang memang nyatanya shalih, nyatanya mereka wali-wali Allah yang sudah meninggal, maka tidak boleh bersikap ghuluw kepada mereka. Yang dimaksud dengan ghuluw kepada orang-orang yang shalih adalah mengangkat tingkatan mereka kepada tingkatan yang melebihi posisi yang telah Allah tetapkan untuk mereka.

Jadi, mereka itu manusia biasa, namun shalih. Mereka dekat kepada Allah, mereka ahli ibadah, ahli taqarrub. Sebagai ahli ibadahnya, sebagai orang shalihnya wajib dimuliakan, wajib untuk dihormati, diagungkan, nggak boleh dilecehkan. Haram hukumnya melecehkan manusia biasa, apalagi melecehkan para ulama, para shalihin, para wali Allah. Tapi walaupun mereka wajib dihargai, dihormati, kadar penghargaannya tidak boleh melebihi sampai pada sikap yang hanya boleh dilakukan kepada Allah. Tidak boleh ditujukan kepada para wali Allah, para shalihin yang sudah meninggal. Seperti istighatsah kepada para wali yang sudah meninggal ketika kita memperoleh musibah atau kesulitan. Istighatsah itu artinya minta bantuan agar dilepaskan dari kesulitan, dari penderitaan, dari musibah, dari kesengsaraan. Atau tawaf di kuburannya, atau tabarruk (ngalap berkah) terhadap tanah kuburannya. Atau menyembelih kurban hewan di sekitar areal kuburannya. Bahkan meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah dikuburkan.

Kalau sudah sampai taraf sana, itu sudah melebihi batas kadar pengagungan. Istighosah hanya boleh kepada Allah, Istianah hanya boleh kepada Allah, tawaf hanya boleh kepada Ka’bah, bukan karena menyembah Ka’bah tapi karena Allah memerintahkan kita untuk tawaf mengelilingi Ka’bah. Jadi kalau tawaf di kuburan para wali dan dianggap ibadah yang sama nilai ibadahnya dengan tawaf di Ka’bah itu kultus individu yang berlebihan.

selamat menyimak semoga bermanfaat.
Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=
Rodja.TV: http://rodja.tv/
Kategori
Ustadz Abu Haidar As-Sundawy
Label
abu haidar, kajian islam, kajian salaf, dakwah tauhid, rodjatv, radio rodja, agama islam, ceramah singkat, ceramah agama, abu, abu haidar as sundawy, dakwah islam

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar