RodjaTV
Ahlan wa sahlan
Login / Daftar

Ceramah: Haji: Miqat Haji / Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji (Ustadz Abu Qatadah)

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

URL

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Ditambahkan oleh Admin pada Haji Ustadz Abu Qatadah
42 Dilihat

Deskripsi

Ceramah berikut adalah diangkat dari kitab Umdatul Ahkam dan disampaikan live di Rodja TV pada Sabtu pagi, 17 Rabi’uts Tsani 1436 / 7 Februari 2015. Ustadz Abu Qatadah dalam kesempatan kali kedua pembahasan Kitab Haji (dari kitab Umdatul Ahkam) ini akan membahas tentang Miqat Haji, atau secara sederhananya dapat diartikan sebagai Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji.

Miqat Haji (بابُ المواقيتِ)
Berkaitan dengan mawaqit (miqat), maka ada dua:
1. Miqat zamani
2. Miqat makani

Miqat Zamani
Miqat zamani ini yaitu waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syariat yang merupakan waktu-waktu kita menunaikan ibadah haji, yang memiliki makna apabila orang menunaikan ibadah haji belum pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau setelah / keluar dari waktu yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ibadahnya itu adalah tertolak karena masuk kepada hadits:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang amalan tersebut bukan berasal dari urusan kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Dan penetapan waktu dalam ibadah haji ini, maka berdasarkan 2 ayat:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ … (البقرة: ١٨٩)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; …” (QS Al-Baqarah [2]: 189)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman masih dalam Surat Al-Baqarah:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ … (البقرة: ١٩٧)
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, …” (QS Al-Baqarah [2]: 197)

Miqat Makani
Miqat makani yang dimaksud adalah tempat-tempat di mana setiap orang yang akan menunaikan ibadah manasik haji / umrah, maka wajib baginya untuk berihram dari tempat-tempat yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; dia (orang yang menunaikan haji / umrah) tidak boleh melampaui miqat-miqat / tempat-tempat yang telah ditetapkan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, kecuali dia telah berihram di situ.



Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ : ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّـامِ : الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْـدٍ : قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَـنِ : يَلَمْلَمَ . هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ , مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ : فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ , حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah (yang sekarang dinamakan Abyar ‘Ali atau Bir ‘Ali), untuk penduduk Syam adalah Al-Juhfah, untuk penduduk Najd adalah Qarnul Manazil (yang sekarang dinamakan As-Sail Al-Kabir), dan untuk penduduk Yaman adalah Yalamlam (atau dikenal dengan As-Sa’diyah). Tempat-tempat yang 4 itu adalah bagi setiap orang yang merupakan penduduk tempat tersebut dan untuk setiap orang yang melalui miqat tersebut walaupun dia bukan dari tempat tersebut bagi orang yang menunaikan haji dan umrah. Dan barangsiapa yang tinggal di dalam miqat, maka dia menunaikan ihram dari mana dia berada, sehingga penduduk Mekkah miqat dari Mekkah.”

Silakan simak sajian ilmiah dari kajian kitab Umdatul Ahkam, Bab Haji, Bagian ke-2, bersama Ustadz Abu Qatadah yang semoga video ceramah ini bisa bermanfaat khususnya Anda yang bersiap untuk menjalankan ibadah haji dan umrah atau bagi kaum Muslimin pada umumnya.

http://rodja.tv/haji-bagian-ke-2-miqat-haji-waktu-dan-tempat-pelaksanaan-haji-kitab-umdatul-ahkam-ustadz-abu-qatadah/

Tulis Pesan Antum

Sign in or sign up to post comments.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar
RSS