RodjaTV
Ahlan wa sahlan
Login / Daftar

Ceramah: Haji: Miqat, Sunnah dan Larangan dalam Ihram, serta Macam-Macam Haji (Ustadz Abu Qatadah)

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

URL

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Ditambahkan oleh Admin pada Ustadz Abu Qatadah
68 Dilihat

Deskripsi

Ceramah ini merupakan pembahasan lanjutan dari Haji (Bagian ke-2: Miqat Haji – Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji) dari Kitab Umdatul Ahkam. Pada ceramah yang berlangsung secara live pada Sabtu, 24 Rabi’uts Tsani 1436 / 14 Februari 2015, Ustadz Abu Qatadah menyampaikan materi lanjutan tentang haji dari kitab Umdatul Ahkam ini kepada “Haji (Bagian ke-3: Miqat, Sunnah dan Larangan dalam Ihram, serta Macam-Macam Haji)“.

Lanjutan dari:
https://www.youtube.com/watch?v=sR9KdMzUQ1w

Haji (Bagian ke-3: Miqat, Sunnah dan Larangan dalam Ihram, serta Macam-Macam Haji)

Miqat
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah (yang sekarang dinamakan Abyar ‘Ali atau Bir ‘Ali), untuk penduduk Syam adalah Al-Juhfah, untuk penduduk Najd adalah Qarnul Manazil (yang sekarang dinamakan As-Sail Al-Kabir), dan untuk penduduk Yaman adalah Yalamlam (atau dikenal dengan As-Sa’diyah). Tempat-tempat yang 4 itu adalah bagi setiap orang yang merupakan penduduk tempat tersebut dan untuk setiap orang yang melalui miqat tersebut walaupun dia bukan dari tempat tersebut bagi orang yang menunaikan haji dan umrah. Dan barangsiapa yang tinggal di dalam miqat, maka dia menunaikan ihram dari mana dia berada, sehingga penduduk Mekkah miqat dari Mekkah.”

Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma, bahwa orang yang menunaikan ibadah umrah / haji itu ada 2 bagian. (Pertama:) bagi orang-orang yang berada di kota-kota tersebut yang telah disebutkan di dalam hadits dan bagi orang-orang yang melewati salah satu di antara miqat, maka dia pun harus menunaikan ihram di tempat miqat tersebut. (Kedua:) tetapi bagi orang-orang yang berada di antara miqat dengan Mekkah (yaitu dengan Ka’bah, Masjidil Haram), maka dia ihram dari tempat tinggal orang tersebut.

Adab Berpakaian ketika Ihram – Sunnah dan Larangan dalam Ihram (ما يَلْبَسُ المُحْرِمُ من الثيابِ)
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
“Bahwa seseorang telah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dipakai oleh orang yang sedang ihram dari pakaian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak boleh memakai baju (gamis, kemeja, dan semisalnya), imamah (penutup kepala), celana, peci, dan khuf (setiap segala sesuatu yang menutupi kedua mata kaki, baik dari kulit (sepatu) ataupun dari kain (kaos kaki atau lainnya), kecuali seseorang yang tidak mendapati sandal, maka boleh memakai khuf tetapi potong yang melewati kedua mata kakinya (harus di bawah mata kaki). Dan tidak boleh memakai pakaian yang terkena minyak wangi.”

Telah dijelaskan definisi yang paling mudah untuk memaknai apa itu yang dimaksud dengan ihram. Para ulama menjelaskan, ihram adalah niat masuk manasik (ibadah haji dan umrah). Dan hukum ihram adalah termasuk rukun di antara rukun haji atau umrah. Artinya, tidak sah seseorang menunaikan ibadah haji atau umrah, kecuali dia harus berihram.

Silakan simak video ceramah dari seri pembahasan komprehensif tentang haji dan umrah ini yang insya Allah sangat bermanfaat bagi Anda yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah.

http://rodja.tv/haji-bagian-ke-3-miqat-sunnah-dan-larangan-dalam-ihram-serta-macam-macam-haji-kitab-umdatul-ahkam-ustadz-abu-qatadah/

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar
RSS