Fiqih Pendidikan Anak: Menjadi Tempat Curhat Yang Nyaman Bagi Anak l Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
46 Dilihat
Menjadi Tempat Curhat Yang Nyaman Bagi Anak adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan tentang cara mendidik anak secara Islami (fiqih pendidikan anak No.144). Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.

Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:

Pertama: Kenali karakter anak
Sebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.
Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.
Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.
Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!

Kedua: Jangan memaksa anak berbicara
Jika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.
Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.

Ketiga: Tahan dulu nasehat Anda
Jika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.

Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiri
Tentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.
Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.

Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasan
Anda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.
Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.

selamat menyimak semoga bermanfaat.
Kategori
Ustadz Abdullah Zaen

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar