Kitab Riyadush Shalihin: "Keutamaan Orang kaya Yang Bersyukur" l Ustadz Mubarak Bamualim, Lc. MHI.

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
25 Dilihat
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji hamba-hambaNya yang bersyukur. Namun itu sangat sedikit dari hamba-hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:

…وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴿١٣﴾
“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba[34]: 13)

Allah juga memuji Nabi Nuh, karena ia termasuk hamba Allah yang bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memberikan tambahan kepada orang-orang yang bersyukur. Allah berfirman:

…لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim[14]: 7)

Mensyukuri nikmat Allah membutuhkan kekuatan Iman. Karena sesungguhnya nikmat-nikmat tersebut seringkali melalaikan. Banyak orang yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala nikmat, bukan semakin dekat kepada Allah. Akan tetapi semakin ia jauh kepada Allah.

Semakin banyak nikmat, semakin banyak harta yang Allah berikan kepada seorang hamba, bukan menjadikan dia semakin dekat dan bertaqarrub kepada Allah. Akan tetapi semakin menjadikan dia kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersombong, karena ia merasa memiliki harta yang banyak. Ujub dengan kekayaannya dan hartanya, dengan pakaiannya yang mewah. Seperti si Qorun yang ia keluar kepada kaumnya dengan perhiasannya dan ia merasa sombong dengannya. Ia menganggap bahwasannya kekayaan itu semua hasil jerih payahnya. Tanpa sama sekali menisbatkan kepada Allah pemberi kenikmatan tersebut.

Oleh karena itulah, berapa banyak kenikmatan-kenikmatan tersebut seringkali membuat kita lupa kepada Allah. Cobalah kita renungkan dalam kehidupan kita. Allah memberikan kepada kita nikmat-nikmat yang banyak. Berupa nikmat pakaian, demikian pula nikmat makanan, nikmat tempat tinggal, demikian pula nikmat kendaraan, terutama nikmat ketika kita bisa berhubungan dengan manusia berupa handphone. Demikian pula alat-alat komunikasi yang lainnya.

Semua itu adalah nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tapi entah kenapa kamudian diantara kita lebih disibukkan dengan WhatsApp, lebih disibukkan dengan Facebook, lebih disibukkan dengan alat-alat tersebut daripada berdzikir kepada Allah, lebih disibukkan dari membaca Al-Qur’anul Karim, lebih disibukkan daripada berdzikir kepada Allah.

Bahkan ia lebih banyak membaca WhatsApp daripada ia membaca Al-Qur’an, daripada ia membaca kitab-kitab para ulama. Bukankah itu semua adalah nikmat Allah? Bukankah itu sesuatu yang harus disyukuri? Sedangkan syukur itu kita gunakan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan Untuk kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rekaman audio: https://www.radiorodja.com/
Rodja.TV: https://rodja.tv/
Kategori
Akhlak Ceramah Agama Islam Adab Fiqih Ustadz Mubarak Bamualim
Label
mubarak bamualim, syukur, bersyukur, kata kata bersyukur, sujud syukur, kata bersyukur, syukur nikmat, nikmat allah, bersyukur kepada allah, rezeki, kata kata syukur, kata bijak bersyukur, kata kata bersyukur kepada, kata mutiara bersyukur, kata syukur, kata2 bersyukur

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar