Kitab Riyadush Shalihin: "Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur" l Ustadz Mubarak Bamualim, Lc. MHI.

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
19 Dilihat
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji hamba-hambaNya yang bersyukur. Namun itu sangat sedikit dari hamba-hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:

…وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴿١٣﴾
“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba[34]: 13)

Allah juga memuji Nabi Nuh, karena ia termasuk hamba Allah yang bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memberikan tambahan kepada orang-orang yang bersyukur. Allah berfirman:

…لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim[14]: 7)

Mensyukuri nikmat Allah membutuhkan kekuatan Iman. Karena sesungguhnya nikmat-nikmat tersebut seringkali melalaikan. Banyak orang yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala nikmat, bukan semakin dekat kepada Allah. Akan tetapi semakin ia jauh kepada Allah.

Semakin banyak nikmat, semakin banyak harta yang Allah berikan kepada seorang hamba, bukan menjadikan dia semakin dekat dan bertaqarrub kepada Allah. Akan tetapi semakin menjadikan dia kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersombong, karena ia merasa memiliki harta yang banyak. Ujub dengan kekayaannya dan hartanya, dengan pakaiannya yang mewah. Seperti si Qorun yang ia keluar kepada kaumnya dengan perhiasannya dan ia merasa sombong dengannya. Ia menganggap bahwasannya kekayaan itu semua hasil jerih payahnya. Tanpa sama sekali menisbatkan kepada Allah pemberi kenikmatan tersebut.

Oleh karena itulah, berapa banyak kenikmatan-kenikmatan tersebut seringkali membuat kita lupa kepada Allah. Cobalah kita renungkan dalam kehidupan kita. Allah memberikan kepada kita nikmat-nikmat yang banyak. Berupa nikmat pakaian, demikian pula nikmat makanan, nikmat tempat tinggal, demikian pula nikmat kendaraan, terutama nikmat ketika kita bisa berhubungan dengan manusia berupa handphone. Demikian pula alat-alat komunikasi yang lainnya.

Semua itu adalah nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tapi entah kenapa kamudian diantara kita lebih disibukkan dengan WhatsApp, lebih disibukkan dengan Facebook, lebih disibukkan dengan alat-alat tersebut daripada berdzikir kepada Allah, lebih disibukkan dari membaca Al-Qur’anul Karim, lebih disibukkan daripada berdzikir kepada Allah.

Bahkan ia lebih banyak membaca WhatsApp daripada ia membaca Al-Qur’an, daripada ia membaca kitab-kitab para ulama. Bukankah itu semua adalah nikmat Allah? Bukankah itu sesuatu yang harus disyukuri? Sedangkan syukur itu kita gunakan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan Untuk kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan bahwasannya syukur itu mempunyai rukun.

Rukun yang pertama, mengakui dengan hati kita bahwasannya nikmat ini adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak seperti sebagaimana seseorang yang sombong yang menganggap bahwasannya kenikmatan tersebut hasil dari pada jerih payahnya, karena kecerdasannya, karena keterampilannya, karena kemampuannya dalam berbisnis sehingga dia tidak menisbatkan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka seorang yang mengakui bahwasanya nikmat ini semua dari Allah dan semua itu diberi oleh Allah, maka ia telah mensukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rukun yang kedua, ia mengucapkan dengan lisannya puji dan syukur kepada Allah. Karena sesungguhnya ia tahu dan yakin bahwasannya satu-satunya yang memberikan kenikmatan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan atasannya, bukan pula siapa-siapa, dia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa pemberi rezeki hanyalah Allah. Maka ia memuji Allah, ia puji Allah atas seluruh kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.

Adapun rukun yang ketiga kata Ibnul Qayyim yaitu menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk mentaati Allah. Kita gunakan HP kita untuk mentaati Allah, kita gunakan kendaraan kita untuk menaati Allah, bahkan panca indra kita yang merupakan nikmat yang besar, kita gunakan mata kita untuk melihat apa yang Allah ridhai, kita gunakan telinga kita untuk mendengarkan apa yang Allah cintai, kita gunakan hati kita untuk memahami ayat-ayatNya, kita gunakan akal yang berikan untuk memahami ayat-ayat Allah yang Allah turunkan kepada kita. Bukan untuk menentang ayat-ayatNya.

Siapa yang menggunakan seluruh kenikmatan tersebut saudaraku, sungguh ketika ia gunakan dalam kebaikan dan ketaatan, ketika ia gunakan dalam perkara yang diridhai oleh Ar-Rahman, maka sungguh ia telah mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rekaman audio: https://www.radiorodja.com/
Rodja.TV: https://rodja.tv/
Kategori
Ceramah Agama Islam
Label
ceramah, ceramah agama, ceramah singkat, kultum singkat, download ceramah, video ceramah, contoh ceramah, contoh ceramah singkat, kultum

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar