Kitab Riyadush Shalihin: "Mengingat Mati & Pendek Angan-angan" l Ustadz Mubarak Bamualim, Lc. MHI.

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Ditambahkan oleh admin
321 Dilihat

Pembicaraan tentang mengingat kematian adalah pembicaraan yang penting dikarenakan beberapa sebab. Sebab yang pertama, mengingat kematian adalah pembicaraan yang berkaitan dengan beriman kepada hari akhir. Karena kematian adalah berkaitan dengan keimanan kepada hari akhir.

Apabila seorang penceramah, ustadz, panutan agama, ahli agama, ulama, kyai, atau siapa saja yang memberikan pelajaran kepada umat, maka pembicaraannya tidak lepas dari empat poin. Yaitu yang berkaitan dengan aqidah, atau yang berkaitan dengan ibadah-ibadah praktis atau yang berkaitan dengan muamalah (hubungan sosial antar sesama manusia baik itu jual beli ataupun pernikahan, perjanjian, ketetapan), atau juga yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Inilah 4 disiplin ilmu yang sering dibicarakan oleh para ahli agama.

Tema yang kita pelajari pada kesempatan kali ini adalah tema yang berkaitan dengan aqidah. Dari empat disiplin ilmu yang paling utama adalah yang berkaitan dengan aqidah. Karena aqidah adalah pondasi dasar dalam segala macam bentuk ibadah muamalah, adab dan tingkah laku. Aqidah bagaikan pondasi dalam sebuah bangunan. Bangunan ini tidak akan tegak tanpa pondasi yang benar. Begitu pula keislaman tidak akan tegak tanpa pondasi aqidah yang benar.

Disinilah letak pentingnya tema ini. Bahwa mengingat kematian sangat erat kaitanya dengan beriman kepada hari akhir. Dan beriman kepada hari akhir adalah bagian dari aqidah. Begitu rentetan ceritanya.

Tema mengingat kematian ini penting karena dia adalah bagian dari keimanan kepada hari akhir. Dan keimanan kepada hari akhir adalah bagian dari perkara aqidah. Dan perkara aqidah adalah perkara yang paling penting dibicarakan mengalahkan segala macam perkara-perkara ibadah, muamalah, tingkah laku. Karena jika aqidahnya rusak, maka muamalah, ibadahnya, tingkah lakunya tidak akan bermanfaat.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepadsa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ “
“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an itu di masa jahiliyyah biasa menyambung silaturrahim, memberi makan orang miskin, apakah itu akan bermanfaat untuknya?” Rasulullah menjawab, “Tidak wahai Aisyah, karena dia belum pernah sekalipun mengucapkan, “Tuhanku, ampuni kesalahanku di hari pembalasan.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Rekaman audio: https://www.radiorodja.com/
Rodja.TV: https://rodja.tv/

Kategori
Ceramah Agama Islam
Label
mubarak bamualim, kajian islam, dakwah tauhid, manhaj salaf, ceramah singakt, ceramah agama islam, mati, kematian, mengingat, ingat, ingat mati, pendek angan angan, dakwah sunnah, dakwah islam, dakwah agama

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar