RodjaTV
Ahlan wa sahlan
Login / Daftar

Pentingnya Ta'awun Dalam Berdakwah l Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Video Unggulan

Syukron! Berbagi kepada teman antum!

URL

Antum tidak menyukai video ini. Syukron telah berpartisipasi!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Ditambahkan oleh Admin pada Ustadz Abu Yahya Badrusalam Dakwah
286 Dilihat

Deskripsi

Pentingnya Ta’awun dalam Dakwah merupakan rekaman kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dan disiarkan secara langsung dari dari Jl. Khairil Anwar, Makasar pada 11 Shafar 1440 H / 20 Oktober 2018 M.
Allah memerintah kita untuk saling tolong-menolong, saling bahu-membahu. Maka dakwah para Nabi membutuhkan bantuan para sahabatnya. Ketika Allah mengutus Nabi Musa alaihissalatu wassalam kepada Fir’aun, maka Nabi Musa meminta kepada Allah supaya Harun bisa membantunya. Nabi musa berkata:

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ ﴿٣٤﴾
“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.” (QS. Al-Qashash[28]: 34)

Lalu di ayat selanjutnya Allah berfirman:

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ …
“Kami akan membantumu dengan saudaramu, …”

Kita tidak bisa berdakwah tanpa ta’awun. Seorang ustadz tidak bisa berdakwah sendirian tanpa bantuan. Lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika berdakwah dibantu oleh istrinya, dibantu oleh sahabat-sahabatnya. Orang yang paling membela dan membantu dakwahnya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakar disakiti oleh salah satu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah sekali dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ta’awun dalam dakwah atau tolong-menolong dalam dakwah ini tidak mungkin bisa kita lakukan kecuali dengan beberapa poin berikut ini:

Pertama, adanya kesadaran pentingnya berdakwah. Kalau tidak ada kesadaran ini, maka akan sulit. Hakikat dakwah adalah menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan. Dan itu adalah tugas yang sangat mulia. Allah menyebutkan bahwa tugas yang paling mulia adalah dakwah. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٣٣﴾
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'” (QS. Fushilat[41]: 33)

Kebenaran tidak mungkin akan tersebar kalau kita tidak berdakwah. Justru kalau kita tidak berdakwah, kebatilan akan semakin merajalela. Imam Ahmad berkata, “Kalau aku diam, kamu diam, kapan orang bodoh akan tahu ini benar ini salah?” Maka ta’awun, saling tolong-menolong ini harus dimulai dengan disadarkan tentang pentingnya dakwah. Dakwah bukan hanya tugas ustadz. Memang kalau sifatnya pendalaman ilmu, itu adalah tugas seorang ustadz yang telah Allah berikan kepadanya kedalaman ilmu. Tapi para murid, tidak boleh berpangku tangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406)

Jangan remehkan satu kalimat kebaikan. Berapa banyak orang yang mendapatkan hidayah hanya karena satu kalimat kebaikan? Bahkan berapa banyak seseorang menjadi ulama besar gara-gara satu kebaikan?

Imam Adz-Dzahabi, ulama hadits yang sangat luar biasa. Beliau menulis kitab Siyar A’lam Nubala, beliau menyebutkan sejarah para perawi dan orang-orang yang terkemuka. Beliau menulis Tariqul Islam yang sangat tebal. Beliau menulis kitab tentang perawi Mizan Al-I’tidal. Beliau juga menulis kitab-kitab perawi-perawi yang lain. Sebab beliau menjadi ulama hadits adalah ketika beliau masih kecil dan bermain dengan teman-temannya, kemudian dia menulis di sebuah batu ceper. Ketika dia sedang menulis, lewatlah seorang ulama hadits. Lalu ulama itu berkata, “Wahai anak, sesungguhnya tulisan kamu menyerupai tulisan ahli hadits.” Ucapan ini sangat mengena dihati Imam Adz-Dzahabi, semenjak itu dia jadi cinta dengan ilmu hadits. Lalu dia pergi mencari ilmu hadits.
Selamat menyimak semoga bermanfaat.

Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=
Rodja.TV: http://rodja.tv/

Tulis Pesan Antum

Silakan Sign in atau daftar untuk memberikan komentar.

Komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar
RSS